Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran
Ki
Hadjar Dewantara menjelaskan bahwa tujuan pendidikan yaitu: menuntun segala
kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan
kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota
masyarakat. Oleh sebab itu, pendidik itu hanya dapat menuntun tumbuh atau
hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki
lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak”
Guru sebagai pamong dan pemimpin pembelajaran yang mendorong tumbuh
kembang murid secara holistik, aktif dan proaktif dalam mengembangkan pendidik
lainnya untuk mengimplementasikan pembelajaran yang berpusat pada murid serta
menjadi teladan dan agen transformasi ekosistem Pendidikan untuk mewujudkan
profil pelajar Pancasila.
Namun sebagai pamong dan pemimpin
pembelajaran, Guru sering diperhadapkan dengan situasi dimana harus mengambil suatu
keputusan. Dan keputusan yang diambil
haruslah efektif dengan berdasarkan pada nilai-nilai kebajikan universal, berpihak
pada murid dan bertanggung jawab.
Kemampuan
dalam mengambil keputusan Guru sebagai pemimpin pembelajaran tidak lepas dari pemikiran
Ki Hajar Dewantara yaitu sistem among dan Pratap Triloka, Yakni :
1.
Ing Ngarso Sung Tulodo, Hal ini berarti bahwa sebagai pemimpin pembelajaran
berada di depan senantiasa memberi keteladanan yang baik bagi orang yang
dipimpinnya. Keteladanan merupakan kekuatan dan energi positif bagi Lembaga yang
dipimpinya serta menumbuhkan rasa percaya bagi orang lain terhadap dirinya. Mengutip kata bijaksana Sri Sultan
Hamengkubowono VIII yang mengatakan bahwa " Keteladanan jauh lebih
bermanfaat dari pada teguran yang tajam "
2.
Ing Madya Mangun Karsa, Sebagai Pemimpin pembelajaran berada di tengah untuk
senantiasa memotivasi setiap murid dalam mengembangkan potensinya serta harus
mampu berkolaborasi dan membangun hubungan positif dengan semua pihak, agar
tecipta kerjasama yang baik dalam mewujudkan tujuan ataupun cita -cita yang telah ditetapkan Bersama.
3.
Tut Wuri Handayani, sebagai pemimpin pembelajaran berada di belakang memberikan
dukungan kepada murid serta sebagai coach untuk dapat menuntun murid dalam melejitkan seluruh potensi yang dimilikinya,
menghilangkan sumbatan – sumbatan yang menghalangi Murid untuk maju dan berkembang
,menjadikan murid menjadi pribadi yang percaya diri akan kekuatan yang
dimilikinya dan terampil dalam mengambil
keputusan dan bertindak sesuai nilai – nilai kebajikan yang diyakini dalam dirinya.
Dengan menjunjung tinggi nilai – nilai kebajikan universal dan tertanam kuat dalam dirinya maka akan sangat mempengaruhi prinsip berpikir sebagai pemimpin pemblajaran dalam mengambil suatu keputusan, Pada dasarnya keputusan yang diambil adalah untuk menyelesaiakan masalah yang dihadapi serta untuk mencapai tujuan yang hendak dicapai. Karena itu, agar keputusan yang diambil efektif, maka seorang guru harus berpegang pada nilai-nilai kebajikan yang tertanam pada diri dan menerapkan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan sebagai berikut :
2. Menentukan siapa saja yang terlibat dalam situasi ini
3. Mengumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini
4. Melakukan pengujian benar atau salah baik melalui uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji halaman depan koran serta uji panutan atau idola
5. Melakukan pengujian paradigma benar atau salah yang memuat 4 paradigma yaitu : individu lawan masyarakat, rasa keadilan lawan rasa kasihan serta jangka pendek lawan jangka Panjang
6. Melakukan prinsip resolusi yakni berpikir berbasis hasil akhir, berpikir berbasis aturan atau berpikir berbasis rasa peduli
7. Melakukan investigasi opsi Trilemm
8. Membuat keputusan
9. Melihat kembali keputusan kemudian merefleksikannya
Dalam
pengujian pengambilan keputusan yang telah diambil kadang pula masih ada
pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas keputusan tersebut, apakah keputusan yang diambil tersebut
efektif, dengan proses coaching akan mampu mendorong dan menuntun potensi yang
dimiliki untuk dapat menemukan jawaban- jawaban dari keraguan ataupun pertanyaan
terhadap keputusan tersebut, begitupun guru dalam melatih siswa agar terampil dalam
mengambil keputusan yang tepat dengan proses coaching murid diberi kebebasan
namun pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan memberdayakan
potensi yang ada agar murid tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Dalam
konteks pendidikan Indonesia saat ini, pendekatan coaching menjadi salah satu
proses ‘menuntun’ kemerdekaan belajar murid dalam pembelajaran di sekolah, pendampingan
murid melalui pendekatan coaching dapat menjadi salah satu langkah tepat bagi
guru untuk membantu murid mencapai tujuannya yaitu kemerdekaan dalam belajar
Proses
coaching membuka ruang emansipatif bagi guru dan siswa untuk merefleksikan
kebebasan mereka melalui kesepakatan dan pengakuan bersama terhadap norma-norma
yang mengikat mereka. Sistem Among, Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun
Karsa, Tut Wuri Handayani, menjadi semangat yang menguatkan keterampilan
komunikasi guru dan murid dengan menggunakan pendekatan Coaching. Proses coaching sebagai sebuah latihan
menguatkan semangat Tut Wuri Handayani yaitu mengikuti/ mendampingi/ mendorong
kekuatan kodrat murid secara holistik berdasarkan cinta kasih dan persaudaraan
tanpa pamrih, tanpa keinginan menguasai dan memaksa. Murid adalah seorang
manusia yang memiliki kebebasan untuk mendapatkan cinta kasih.
Agar mampu mengambil suatu keputusan yang bertanggung jawab sebagai pemimpin pembelajaran dengan memiliki kompetensi social emosional dapat mengenal
emosinya dan bekesadaran diri penuh, mampu mengelola dirinya agar dapat memberikan
respon yang tepat dan bertanggung jawab terhadap situasi yang dihadapi .
Pengambilan
keputusan yang bertanggung jawab sesungguhnya adalah kemampuan yang jika secara
konsisten dan berkelanjutan ditumbuhkan dan dibiasakan sejak dini, akan
memungkinkan seseorang untuk bertumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab
dan lebih berdaya lenting (resilience) dalam menghadapi segala konsekuensi yang
harus dihadapi akibat keputusan yang dibuat dalam hidupnya.
Dalam
pengambilan keputusan yang dilakukan guru hendaknya dapat menuntun dan
memberikan ruang bagi murid untuk merdeka mengemukakan pendapat dan
mengekspresikan pengetahuan baru yang didapatnya. Dengan begitu murid dapat
belajar mengambil keputusan yang sesuai dengan perspektif dirinya. Menjadi
murid yang merdeka, kreatif, inovatif, pribadi yang matang serta penuh
pertimbangan dan cermat dalam mengambil keputusan yang dapat menentukan bagi
masa depan mereka sendiri. Kemampuan-kemampuan tersebut dapat dipupuk dan
dikembangkan dengan budaya positif sekolah.
Komentar
Posting Komentar